Andai Sekolah Gratis

Hari ini 16 Agustus 2007, menjelang Indonesia Merdeka yang ke 62. Baru saja tadi saya mampir ke sebuah sekolah karena saya akan memasukkan anak saya ke pra playgroup … alamak, mahal sekali, kurang lebih 6 juta. I hate this !! .. bukan masalah saya tidak punya uang segitu, tetapi apakah harus sebegitu mahalnya untuk mengajarkan anak sosialisasi terhadap lingkungan ? …
Trus apakah juga pengajarnya kompeten ? karena notabene saya juga seorang pengajar.

Selama akhir pekan kemarin, hati ini bertanya-tanya jadi kepikiran terus apa iya segala urusan di negeri ini bisa dibereskan dengan uang. Masih terlintas di kepala ini tulisan di Kompas Sabtu, tentang pengakuan John Perkins di bukunya yang baru diterbitkan. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan jika memang itu benar-benar pernah terjadi. Bangsa kita yang besar ini rupanya tidak pernah belajar dari pengalaman, setelah 350 tahun mengalami jaman kolonialisme sampai sekarangpun kita masih dijajah secara terselubung karena tidak semua orang dari bangsa ini yang menyadarinya walaupun aku yakin mereka pasti masih merasakannya karena mereka masih hidup dalam kemiskinan. Apakah bangsa ini masih belum sadar juga, ada yang salah, kita salah mengelola, salah mengatur dan salah memanage aset bangsa ini. Bagaimana mungkin petani bisa hidup miskin di lumbung padi, bagaimana mungkin negeri yang kaya dengan sumber daya alam terutama BBM tapi kita masih melihat antrian panjang di pompa bensin, minyak tanah dan solar untuk kepentingan rakyat jelata sulit didapat karena tidak ada suplai di pasaran.

Kita mesti mengakui kehebatan hasil kerja Amerika Serikat melalui John Perkin dan timnya, betapa mereka berhasil membuat bangsa yang kaya sumber alam dalam menjadikan rakyatnya hidup dalam kemiskinan. Dengan menggelumbungkan hasil laporan surveynya, mereka berhasil meyakinkan lembaga keuangan dunia seperti IMF dan World Bank mengeluarkan dananya untuk membiayai proyek-proyek yang dikerjakan oleh perusahaan-perusahaan konglomerat Amerika. Anehnya pemerintahan bangsa ini sangat bangga sekali dengan semakin banyaknya investasi asing yang masuk ke Indonesia.

Sikap kepala pemerintahan, yang selalu berusaha mendapatkan hutang luar negeri untuk membiayai proyek-proyek pengerukan kekayaan alam Indonesia sungguh sangat egois, tidak nasionalis dan sangat tidak bertanggung jawab. Menurut pengakuan Perkins dibukunya pejabat-pejabat negara yang terlibat dalam pencairan dana untuk proyek-proyek tersebut mendapatkan sejumlah uang. Pantas saja setiap tahun kita selalu melihat pemerintahan kita seolah berlomba-lomba untuk mendapatkan hutang luar negeri.

Apakah kita ingin nantinya anak cucu kita harus menggadaikan hidupnya jiwa dan raganya untuk membayar hutang-hutang bangsa ini sementara seluruh kekayaan alamnya telah habis dikeruk oleh nenek moyangnya. Siapkah kita untuk mempertanggungjawabkannya?

Menurut hasil pengamatanku investasi asing di Indonesia hanya sekedar menggerakan roda perekoniam dengan menciptakan lapangan pekerjaan. Dengan standar gaji yang sangat rendah di Indonesia dan rendahnya biaya produksi lainnya otomatis kaum kapitalis imperialis yang berkedok investor asing tersebut yang paling besar mendapat keuntungan. Jangan heran bila mereka mendepositkan dolar demi dolar keuntungan mereka ke luar Indonesia sehingga sampai sekarangpun pemerintahan kita belum bisa mengendalikan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Negara-negara Eropa seperti Irlandia dan Lexoumberg berhasil menempatkan diri sebagai negara terkaya di Eropa. Bayangkan negara yang tanpa sumber daya alam dan letak geografis yang kurang menguntungkan berhasil menjadi negara terkaya. Itu tak lain karena Irlandia berhasil membentuk sumber daya manusianya. Baru di era tahun 90-an, pemerintahan negera tersebut mulai menyelenggarakan pendidikan gratis dan hasilnya sungguh di luar dugaan sekarang mereka menjadi negara terkaya karena investasi yang masuk ke negara tersebut lebih mementingkan sumber daya manusianya. Sedangkan Lexoumberg menjadi negara kaya karena bank di negara tersebut dikenal sebagai tempat yang aman untuk menyimpan deposit.

Kembali lagi ke masalah perpajakan di Indonesia, menurut sumber yang aku dapat modernisasi yaitu system on-line pelaporan pajak yang sejak awal tahun 2000-an didengung-dengungkan adalah hasil dari petunjuk IMF sebagai syarat untuk mendapatkan dana cair dari IMF saat krisis ekonomi melanda bangsa ini.. Lagi-lagi IMF, kenapa bangsa lain mesti campur tangan urusan dalam negeri kita. Mengapa pula aku mesti heran dan bertanya-tanya, pastinya karena IMF yang punya dana kan? Tapi mengapa pula mereka yang lebih berkuasa untuk mengatur keuangan negeri ini. Mungkin mental para aparatur negara yang mesti dibenahi, karena mereka bisa begitu murahnya menjual negerinya sendiri. Semua masalah akhirnya harus berujung ke pribadi mental aparat yang mengelola negeri ini dari pucuk pimpinannya sampai ke bawahannya yang paling rendah.

Tidak dipungkiri lagi peran sekolah dan orang tua cukup besar dalam membentuk pribadi tiap orang. Bicara soal pendidikan di negeri ini sungguh sangat tidak berpihak kepada rakyat (baca rakyat kecil). Tahun ajaran baru di mulai dengan pernyataan pemerintah yang tidak berdaya mengatur tarif biaya sekolah yang dihitung mulai dari uang buku, uang gedung sampai biaya ekstra kurikuler lainnya. Bisa dibayangkan betapa banyaknya anak-anak yang tidak dapat bersekolah. Anak-anak generasi penerus bangsa mestinya harus jadi perhatian kita semua karena di tangan mereka nantinya arah bangsa ini akan ditentukan. Apa yang terjadi ketika anak kita lulus SPMB tetapi ternyata kita tidak mampu membayar ‘uang gedung’ ? Apakah yang ingin kita hasilkan? generasi muda yang bodoh tidak berkepribadian yang akan dengan mudah terkena pengaruh luar. Apakah kita ingin jadi bangsa yang dari generasi ke generasi sebagai bangsa yang korup? Kita mestinya bisa belajar dari Irlandia dengan mencetak sumber daya manusia yang tangguh diharapkan kita mampu mengelola negeri yang kaya ini sehingga kita bebas dari imperilasme abad modern ini dan maju berdiri sejajar dengan bangsa – bangsa lain di dunia ini.

Semua bisa dimulai dari sini, PENDIDIKAN. Sebenarnya ini bukan hal yang baru kalau dilihat ke belakang sejarah bangsa ini, kita baru bangkit melawan penjajahan di awal-awal tahun 1900-an yaitu setelah kita mulai mengenal sekolah untuk kaum inlander waktu itu. Kalau saja kita mau menengok sejenak ke belakang melihat sejarah bangsa ini. Kalau saja sekolah bisa gratis, …

One Response to “Andai Sekolah Gratis”

  1. Furkan Says:

    Halooo..

    di dompu ada sekolah gratis lohhh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: