Hati dan Jiwa

jadi instruktur ? … ga pa pa … yang penting adalah Hati, Jiwa, dan Semangat …

Bagi anak miskin, tidak selurus mistar itulah perjalanan hidupnya. Lazimnya meloncat-loncat dari nasib satu ke nasib lain. Tidak teratur, serba menghadapi hambatan, kebangkrutan dan macam-macam malapetaka dan selalu tak terduga. Maka kita harus mengajarkan cara berpikir yang tidak linier, alias jalan alternative. Sekilas keadaan itu tidaklah ada bedanya dengan nasib-nasib guru … Hei, kita para instruktur ini dulunya juga hasil didikan para guru bukan ? … hanya saja sekarang kita menyandang sebutan instruktur, tetapi janganlah kita berbangga dengan sebutan itu. Kita harus mencoba menyelami dan memahami beberapa keadaan di sekeliling dunia pendidikan kita, sebab kita tidak boleh lupa, bahwa masalah engajaran dan pendidikan de facto adalah masalah kekuasaan, entah kita suka atau tidak. Usaha kita adalah mencoba mencari ‘sintese’ dialektik atau keseimbangan antara pemberian kemerdekaan kepada siswa didik kita untuk mengembangkan sendiri apa yang mereka senangi dan disiplin.

Hati dan Jiwa kita, sepenuhya adalah untuk memajukan liku-liku dunia pendidikan dengan tidak meninggalkan kemerdekaan berpikir siswa-siswa kita. Kita harus berani ‘fair-play’ menghadapi kenyataan bahwa kita ditunjuk sebagai moderator di dalam kelas, penyampai materi di kelas, jadi janganlah arogan, berikan semuanya dengan Hati dan Jiwa yang tulus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: